#BICARABIASA1
"TIDAK APA BILA TERLAMBAT, DARIPADA TIDAK SAMA SEKALI"
Semakin dewasa aku semakin paham bahwa "membaca" itu bukan hanya (salah satu) keterampilan berbahasa yang biasa (baca: luar biasa).
Lho bentar deh, masa baru menyadari sih?
"Iya betul. Memang sangat terlambat, di usiaku yang hampir menginjak 2 dekade ini baru menyadari sesuatu yang amat luar biasa manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari. Untungnya aku berani mencoba untuk menjalani kegiatan yang dulunya tidak terbayangkan olehku".
Lho.. lho... kok bisa sih?
Bila dirunut-runut (dalam lingkunganku), merupakan hal yang 'sedikit wajar' bila orang sepertiku tidak tahu menahu tentang baca-membaca. Dari sini aku sangat sadar kalau lingkungan berpengaruh dalam hidupku,mungkin juga untuk orang di lingkungan sekitarku. Hidup yang nomaden lah yang menjadikkannya lebih mantap akan adanya pendapat tersebut. Aku rasa ini juga relate dengan anak-anak yang hidup di desa-desa tertinggal di seluruh Indonesia.
Oke anggaplah begitu. Lantas kehidupan di lingkunganmu itu seperti apa dan gimana sih?
Aku anak desa yang hidup di perbatasan dengan kota lain (Ibukota provinsi Jateng) serta jauh dari Ibukota kabupaten, sebut saja aku masyarakat pinggiran. Sedikit banyak, masyarakat kami terkena pengaruh modernisasi dari kota sebelah, seperti model pakaian yang sedang trend, gawai keluaran terbaru, game-game pasaran, dll, akan tetapi di balik itu semua, ada satu yang masih mengganjal, yaitu tentang pendidikan. Pada bidang pendidikan ini, kami kurang terpengaruh dengan di kota sana. Kami tertinggal bila dibandingkan dengan kota tersebut. Sebenarnya bisa-bisa saja menerapkannya di masyarakat kami, tetapi.........
tetapi....
tetapi....
Budaya, adat istiadat, kepercayaan, SDM, fasilitas, sangat berbeda dengan di sana. Di desaku masih sangat kental dengan budaya desanya. Pun fasilitas juga kurang memadai.
Ah, itu hanya alasanmu saja, pasti di perpustakaan sekolah ada banyak buku to?
(BERSAMBUNG XIXIXIX)
Komentar
Posting Komentar